Pahit Kopi Kebun
Slurp… begitu suara merdu yang terdengar dengan aroma yang sungguh menggelitik hati. Hiruk pikuk keramaian tak mengusik kenikmatan segelas cappuccino- ku; hanyut tenggelam sampai ke dalam jiwa. Lembut krim susu bersembunyi dalam kuat kafein yang mengalir keras menyisir sayap kiri otak, dan perlahan membasahi bagian sebelahnya. Slurp… hangat seteguk kopi memang tak ada bandingnya. Halaman depan rumah seolah hanya menjadi penghias, dan semua serangga berisik itu tak dapat menggangguku mencerna setiap tetes kopi yang sedikit demi sedikit mengalir melalui kering tenggorok yang menjerit histeris menyambut kedatangan tamunya itu. Sesuatu yang special memang selalu ditunggu. Ketika ia datang, tak satupun orang bodoh yang akan melepasnya dengan suka cita. Kalau dipikir lagi,ternyata pemandangan di depanku ini boleh juga. Mekar bunga kemerahan tertawa riang. Tentu saja senyum hijaunya itu yang paling menyilaukan hati. Sejenak aku melupakan kopiku dan mengagumi keindahan lain di depan m...