Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita

Sekedar Fotografi

Gambar
Jatuh, atau tidak jatuh? Entahlah..  Foto: Dok. Pribadi Lihat di Instagram .   Mungkin judul di atas merupakan judul yang salah, karena dari pengalaman gue potret sana potret sini, "sekedar fotografi" bukanlah hal yang cukup untuk dilakukan. Butuh usaha, kerja keras, kemampuan, pengetahuan terhadap sudut yang tepat, pencahayaan untuk mencegah  backlight , dan momen yang tepat untuk mendapatkan hasil fotografi yang baik. Gue baru-baru ini menyenangi fotografi. Sebenarnya sudah sejak lama tertarik, namun tidak dapat diteruskan karena tidak mempunyai  gear  yang bagus untuk mengambil foto yang dapat dikategorikan bagus (setidaknya menurut gue). Walaupun sekarang juga masih belum ada  gear  yang berwujud kamera DSLR,  handphone  gue sekarang sudah cukup membahagiakan untuk memenuhi hasrat per-foto-an gue. Gue menemukan 'mainan' menarik bernama lensa eksternal. Banyak ditemukan di sekitar Stasiun Bogor, gue pun tertarik untuk mencoba...

Prihatin Meludah

Gambar
Hati gue teriris ketika melihat seseorang meludah sembarangan. Kalau mungkin dia sakit, gue tidak tahu. Kalo mungkin dia kurang minum, gue juga tidak tahu. Hanya saja, gue merasa risih ketika orang tersebut meludah di jalan atau di tepinya. Jalanan merupakan fasilitas umum yang dipakai oleh warga sekitar. Gue sebagai salah satu warga merasa tidak terhibur dengan riak yang tergeletak. Siapa tahu riak menguap dan menjadi sumber penyakit. Siapa tahu riak terinjak dan menempel ke sepatu secara menjijikan. Siapa tahu riak yang diludahkan saat mengendarai motor pada kecepatan tinggi dapat mengenai pengendara motor lain di belakangnya. Adakah aturan di Indonesia yang melarangnya? Gue hanya tahu ada aturan ini di beberapa negara lain, seperti di Hongkong , Inggris , ataupun Singapura . Sayangnya, peraturan di Indonesia (seandainya ada) kurang terawasi dengan baik sehingga memunculkan pemikiran mental “taat kalau ada yang lihat”. Pada akhirnya, semua kembali kepada diri kita sendiri. K...

Skala Prioritas

Jadi, ceritanya gue masuk majalah SCIENTIA --majalah kreasi temen-temen fakultas gue tercinta, FMIPA UI. Wah! Perasaan luar biasa! Merasa terhormat bisa mengisi kolom opini dari majalah tersebut. Keinginan gue untuk beropini di koran  terealisasi. Semoga dapat menjadi lecutan semangat gue untuk terus menulis dan berkarya. Ayo, menulis!  P.S. Jangan lupa dibaca tulisan gue di majalah tersebut. Tidak akan menyesal pula untuk menghabiskan satu majalah keren ini dengan beragam topik yang menarik.

Menjadi Pengendara Pintar

Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor di daerah Jabode m asih banyak terjadi. Tidak digunakannya helm, kebiasaan buruk melawan arus kendaraan, menggunakan perangkat elektronik saat mengemudi, maupun tidak dibawanya surat-surat berkendara merupakan hal-hal yang tidak asing lagi untuk ditemui. Alasannya banyak, selalu ada saja alasan untuk tiap jenis pelanggaran yang dilakukan. Walaupun terdengar sederhana, dampak dari pelanggaran tersebut sangatlah serius, bahkan hingga dapat membahayakan tidak hanya nyawa pelanggar, tetapi juga pengguna jalan yang lain. Berikut beberapa jenis pelanggaran yang umum terjadi beserta alasan mengapa kita tidak boleh melakukannya: 1. Tidak menggunakan helm Banyak pengguna motor yang menganggap bahwa penggunaan helm merupakan masalah sepele. "Ah, deket kok", "Males, ah, panas" atau "Ga apa, lah, ga ada polisi" menjadi beberapa alasan yang sering terucap. Padahal, w alaupun hanya jarak dekat, k...

Rapor Merah Diri

Tidak sadar kalau hari ini sudah tanggal 18 Maret 2015. Mungkin ada kenalan yang berulang tahun, namun maaf, gue kurang ingat. Terlepas dari semua hal, hari ini merupakan tanggal 18 ketiga yang gue lewati setelah gue berulang tahun pada 18 Desember lalu, atau kurang lebih 3 bulan. Kalau mungkin lu mengikuti tulisan-tulisan gue di awal tahun, lu akan tahu bahwa gue membuat beberapa target yang (harapannya) dapat gue realisasikan di tahun 2015. Walaupun target tersebut semata-mata merupakan target pergantian tahun, target tersebut tentu menjadi bagian dari target umur gue yang baru saja menginjak kepala dua ini. Beberapa waktu yang lalu gue mencoba intropeksi diri, dan sedikit terkejut dengan pencapaian gue. Cukup banyak rapor merah dari 15 target gue di 2015, setidaknya dari sisi perkembangan dan usaha gue untuk mencapai target-target tersebut. Tidak mau berbohong, target-target gue terlampau banyak dan cukup tidak realistis untuk diwujudkan dalam waktu yang bersamaan. Tidak berboho...

Kolom Opini

Sudah lama tidak menulis. Bahkan gue tidak ingat kapan terakhir gue posting di blog. Boleh dibilang gue vakum. Kenapa? Sibuk ini itu  *klasik*. Gue membutuhkan waktu untuk berpikir. *asumsikan saja seperti itu ahaha* . Percaya atau tidak, vakum dalam melakukan suatu hal akan membuat lu berpikir. Setidaknya gue jadi berpikir untuk kembali menulis karena gue merindukan itu *haha*. Gue ingin sekali membuat sebuah tulisan yang dapat dimuat dalam kolom opini sebuah koran. Tidak perlu koran terkenal juga tidak masalah asalkan ada nama gue tercantum di sana memberikan sebuah opini * pengen banget, Rick?* . Apakah gue salah ketika menjadikan hal tersebut sebagai sebuah prestasi? Bukan kegiatan yang mudah untuk menuliskan materi yang pantas dimuat di koran.  Perlu teknik yang baik dan pengalaman yang banyak untuk mengetahui kriteria tulisan yang biasanya dimuat. Gue tidak berniat untuk membahas tips dan trik membuat tulisan yang dapat dimuat di koran, tetapi hanya sekedar berbagi...

Kisah Klasik Bersepeda

Beberapa waktu yang lalu gue melihat ada tiga anak kecil sedang menaiki sebuah sepeda. Suatu saat mereka hampir terjatuh. Tentu saja penumpang yang belakang merasa kecewa  dan berkata "Ah, kamu!". Lalu pengendara sepeda tadi berkata, "Yang penting senang, kan?" Gue teringat pengalaman gue bersepeda dulu. Walaupun gue bukan orang yang sering bermain keluar bersama tetangga untuk main kejar-kejaran, ataupun ramai-ramai bermain bola plastik di gang, tetapi gue tetap merupakan salah satu anak yang sering bermain keluar untuk bersepeda. Kalau gue tidak salah ingat, mungkin hampir setiap akhir pekan gue selalu bersepeda. Walaupun hanya dalam berkeliling sekitar rumah dengan jarak yang relatif pendek (tidak sampai puluhan kilo), sudah cukup lah membuat gue berkeringat. Gue melewati sejarah panjang sampai gue benar-benar bisa naik sepeda roda dua dengan baik. Sepertinya cinta gue kepada sepeda diawali dari sepeda roda tiga yang pernah  gue miliki, yang gue rasa sang...

Semangat Belajar

Kalau dirasa-rasa, sebenarnya ada beberapa saat gue malas belajar. Sulit, pusing, stres, itu hanya beberapa dari segelintir keletihan dalam proses belajar. Tentu saja semakin lama gue belajar, semakin banyak yang gue ketahui, semakin dalam materi yang gue pelajari, semakin sulit pelajaran tersebut. Tapi gue berpikir kembali. Masih banyak orang yang tidak memiliki nasib seberuntung gue untuk duduk di bangku kuliah baik karena masalah keuangan, masalah keadaan, maupun faktor-faktor lainnya. Bahkan untuk makan pun sulit, yang terpikirkan hanyalah bagaimana cara untuk dapat bertahan hidup. Sedikit cerminan saja untuk membuat gue tetap semangat dalam belajar. Semangat, ya , Rick, belajar. Semakin banyak pengetahuan yang lu dapat, semakin besar kemungkinan lu untuk dapat mengubah dunia, minimal dari diri sendiri. Semua demi masa depan yang lebih baik :)

Kebiasaan Menunda

Kebiasaan menunda-nunda itu benar adanya. Kalau ada suatu kerjaan yang relatif berat, manusia *sebut saja Ricky* cenderung untuk menunda-nunda pekerjaan tersebut karena tahu pekerjaan tersebut akan melelahkan. Entah jadi browsing tidak jelas di handphone , rapi-rapi file di laptop, ngemil-ngemil cantik, ada saja yang dilakukan untuk dapat menghindarkan diri dari pekerjaan berat tadi. Padahal, selama apapun ditunda, pekerjaan tersebut tetap harus dikerjakan. Menghindar bukanlah jawaban. Waktu terus berjalan, dan sifat deadliner akan segera menghantui. Jangan sampai lu terbiasa untuk menunda. Rugi untuk diri lu sendiri juga soalnya :)

Deadliner

Beberapa kali gue menggunakan mindset " deadline " dalam melakukan suatu kegiatan. PR dipepet-pepet dekat hari pengumpulan, masuk kampus dipepet-pepet dengan jam masuk *kadang malah jadi kelewatan*, ataupun kerjaan ditunda-tunda karena lagi mager . Ketika sudah dekat-dekat waktunya, baru, deh , semua dikerjakan. Sejujurnya deadliner ini sangat melelahkan. Lu tidak punya waktu bersantai lagi karena batas pengumpulan akan segera tiba. Lu bahkan tidak mempunyai cukup waktu untuk dapat menganalisis permasalahannya dengan benar, dan hal tersebut dapat berimbas pada kualitas yang tidak cukup baik. Pola seperti ini harus segera dihilangkan. Walaupun lu bisa bersantai-santai di awal, derita yang dialami pada waktu deadline *bagi gue* tidak sesuai dengan banyak waktu santai tadi. Pusing, tertekan, stres, menyiksa diri sendiri hingga timbul pemikiran ya udah lah ya yang penting beres. Jelas ini sangat salah, karena sebaik-baiknya sesuatu adalah sesuatu yang dikerjakan dengan sebaik-...

Ikut Aturan

Gue bingung dengan orang-orang yang sulit menaati peraturan sederhana. Bukannya gue mendeklarasikan kalau gue selalu taat aturan, melainkan peraturan-peraturan seperti "membuang sampah pada tempatnya" ataupun "mengendarai motor sesuai dengan arah jalur yang benar" merupakan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan tanpa perlu disuruh.  Aturan dibuat bukan untuk dilanggar, loh, tetapi herannya masih ada saja yang begitu. Pemikirannya masih relatif pendek. "Buang sampah sembarangan, toh , nanti juga hilang terbawa hujan" jelas bukan pemikiran yang tepat karena sepanjangnya sungai akan berakhir di laut, dan lautan sampah bukan tidak mungkin akan membanjiri si pembuang sampah sembarangan itu. Begitupun dengan pemikiran " Biarin , ah , lawan arus, yang penting cepat sampai." Apa yang akan ada  di benak orangtua lu ketika misalnya *amit-amit* lu terpaksa menginap di rumah sakit akibat dari melanggar aturan? Padahal, kan, aturan dibuat bukan untuk dilangg...

Penemuan Berharga

Sejujurnya gue terkagum dengan para penemu. Bagaimana tidak, mereka berhasil menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sebut saja T. A. Edison dengan penemuan lampunya ataupun mereka yang menemukan HP yang kita gunakan sekarang. Bisa kita lihat bahwa kehidupan kita sekarang sulit untuk bisa lepas dari kedua hal tersebut. Belum lagi penemuan transportasi seperti kereta, pesawat, ataupun penemuan sederhana seperti piring ataupun WC. Semua barang tersebut sangat berguna dalam mempermudah pekerjaan kita sehari-hari. Gue penasaran tentang apa yang melintas di otak mereka hingga akhirnya mereka mencoba untuk meneliti dan membuat sesuatu tersebut. Gue yakin kalau percobaan yang mereka lakukan tidak hanya satu atau dua kali, melainkan hingga ribuan kali. Gue penasaran apa yang membuat mereka masih yakin bahwa percobaan yang mereka lakukan akan menghasilkan sebuah keberhasilan. Bagaimana mereka bisa bertahan dengan segala cemoohan orang lain mengenai percobaannya yang diang...

Simpan File-mu

Menyebalkan rasanya ketika lu telah melakukan sebuah ketikan panjang di komputer, lalu tiba-tiba aplikasi yang lu jalankan tertutup secara paksa dengan kondisi pekerjaan lu tidak tersimpan. Masalah klasik, memang, tapi banyak orang yang sering melupakannya *termasuk gue, makanya gue tulis ini hahaha*. Walaupun terdengar sederhana, kelupaan untuk menyimpan file ketikan dapat menjadi permasalahan yang sangat krusial terutama ketika waktu lu sempit, atau ketika tulisan lu sudah cukup panjang sehingga ide yang dikembangkan sudah terlalu luas. Waktu yang digunakan untuk "mengetik ulang" itu akan menjadi sebuah waktu yang terbuang percuma, dan bisa jadi ide cemerlang lu pada awal penulisan tidak muncul lagi pada pengetikan lu yang kedua setelah kejadian. Memang beberapa aplikasi sudah menyiapkan fitur simpan otomatis, hanya saja frekuensinya bisa jadi tidak tepat terutama ketika lu melakukan pengetikan yang cepat. Selalu ingat untuk menyimpan file ketikan lu sebelum lu menyesal ke...

Fokus

"Ketika kamu mengerjakan suatu pekerjaan, fokus lah mengerjakan pekerjaan tersebut hingga selesai, baru kamu melanjutkan pekerjaan yang lain agar kamu mendapatkan hasil yang terbaik." -- Dr. Ir. Djoko Sardjadi

Dua Bahasa

Gambar
Gambar 1 Belajar Jerman Gue merasa belajar bahasa selain bahasa negara dan bahasa inggris menjadi sebuah hal yang perlu dilakukan. Oke, lah , bahasa negara ya harus tahu untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Begitupun bahasa inggris sebagai bahasa global. Walaupun begitu adanya "bahasa ketiga" menjadi sebuah poin lebih untuk dilakukan Fungsi bahasa ketiga dapat dilihat dari sisi akademis terutama bagi mereka yang ingin bersekolah di luar negeri. Tentu saja untuk dapat berkomunikasi dengan sekitarnya, perlu untuk mempelajari bahasa di daerah tersebut. Begitupun dalam melakukan kerja di luar negeri, atau sekadar ingin punya "bahasa rahasia" dengan si dia yang tidak semua orang tahu * ups , salah fokus*. Hanya saja terkadang kita tidak memiliki waktu dan materi yang cukup untuk mempelajarinya. Namun, dengan kemajuan teknologi, kita bahkan dapat melakukan belajar bahasa secara mobile  dengan menggunakan handphone , tab , ataupun laptop. Bagaimana? Jadi...

Senyum :)

Apapun yang terjadi, tetaplah tersenyum. Ketika lu mendapat kesenangan, tersenyumlah. Ketika lu sedang sedih, tersenyumlah. Ketika lu sedang tertimpa nasib sial, tersenyumlah. Ketika lu lagi jemur baju lalu tiba-tiba hujan, tersenyumlah. Ketika lu bertemu dengan siapapun, tersenyumlah. Ketika lu tidak mendapatkan apa yang lu inginkan, tersenyumlah. Ketika lu lagi galau, tersenyumla. Ketika lu diberi kesempatan berkelana keliling dunia, tersenyumlah. Ketika lu mendapat sebuah prestasi, tersenyumlah. Ketika lu kehilangan sesuatu, tersenyumlah. Percayalah, dunia akan lebih indah kalau kita semua tersenyum karena senyum tidak hanya membuat kita bahagia, tetapi juga orang lain :) P.S. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita tersenyum. Coba aja..

Speak Out!

" Kalo lu ga ngomong, gimana orang mau tau kemampuan lu? " Gue pernah mendengar kalimat itu, dan gue percaya bahwa itu benar. Diam bukanlah solusi untuk hal-hal yang menyangkut "pembuktian diri". Memang, semua harus diawali dengan usaha. Namun, ada satu titik dimana lu harus ngomong supaya orang lain tahu keberadaan lu. Bagaimana lu bisa meminta sesuatu tanpa harus berbicara? Apakah mau menunggu sampai dia sadar? Mau sampai kapan? Tak perlu malu berbicara, terutama ketika pembicaraan lu benar. Lu merasa sudah mengerjakan soal ujian dengan baik, tapi lu dapat nilai jelek? Speak out! Mungkin dosennya salah input nilai. Lu suka sama si dia? Speak out! Mungkin dia juga suka sama lu. Lu ingin jadi yang terbaik? Speak out! Dan biarkan dunia tahu siapa diri lu yang sebenarnya. Kalo lu merupakan orang yang pemalu *kayak gue*, pelan-pelan dobrak tembok itu, karena komunikasi menjadi sebuah hal utama bagi manusia sebagai makhluk sosial. Speak out and let the world hear ...

Kacamata

Gambar
Gambar 1 Gue dengan kacamata.  Sorry for doing selfie.  Ga maksud *haha* Jadi gue baru-baru ini harus menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan gue. Mungkin sudah sekitar 2 bulan, tapi itu termasuk "baru" jika dibandingkan dengan umur gue yang udah masuk kepala dua. Silinder kurang lebih 1/2, minus kurang lebih 1/4. Jujur saja, memakai kacamata itu menyebalkan. Kalau kotor, penglihatan jadi buram, harus buka kacamata untuk nge -lap. Kalau hujan, cipratan airnya akan menempel, harus buka kacamata untuk nge- lap. Kalo makan indomie, uap panasnya membuat kacamata berembun, harus buka kacamata untuk nge -lap. Amat mengganggu mobilisasi gue. Cuman, ya , kalau tidak pakai kacamata, buram sudah semua. Derita pakai kacamata -_-. Baik-baik, ya , rawat mata. Makan wortel, dan kurang-kurangi penggunaan gadget . Sebelum semua terlambat :) P.S. Bonus foto :p

Introspeksi

Sudah 1 bulan gue lewati di tahun 2015. Iseng aja melihat kembali target 2015 yang telah gue buat sebelumnya. Miris, karena banyak yang bolong. Lari mungkin hanya 6 kali, ibadah suka tertinggal, jurnal tidak dibaca, Halliday juga hanya bab 1, KRTI masih belum banyak ilmu, laporan keuangan berhenti, dan tidak selalu mandi dua kali sehari * ups *. Padahal baru 1 bulan, loh . Mungkin karena masih suasana liburan (:D) *alasan*, atau mungkin semua berasal hanya dari pribadi gue semata. Gue menyadari bahwa target gue cukup banyak, dan sulit untuk menjaga konsistensi seluruhnya dalam keseharian gue. Dari semua yang tidak terlaksana dengan baik, masih ada, kok , yang gue rutin jalankan, seperti menulis di blog ini :), langgeng sama doi ;), dan juga mencuri start les bahasa jerman dengan menggunakan aplikasi Duolingo  * cek tautannya, keren sekali*. Ada juga yang masih belum terlaksana, seperti beasiswa, riset, dan tentu saja nilai IP dan IPK *orang semester 6 aja belum masuk....

Langit BIru

Gambar
Gambar 1 Langit Biru Gue suka melihat langit. Selalu saja ada yang berbeda setiap kali gue memandangnya. Kadang ia hanya kosong, dengan bangga menunjukan aksen birunya. Kadang ia ditemani awan tipis, layaknya memandang dengan kacamata buram. Tentu saja awan tebal juga tidak mau ketinggalan menemani langit, bersama burung-burung yang sedang menikmati indahnya hari. Jika terlalu banyak awan hitam, maka langit akan menjadi mendung abu. Sedikit sedih, namun mengingat bahwa nantinya akan turun hujan yang dapat menumbuhkan pepohonan, gue sedikit terhibur. Oh, ya! "Jangan lupakan gue!" kata sang matahari yang merasa bahwa langit tunduk kepadanya karena tanpa matahari langit akan menjadi gelap, dan hadirlah malam. Walaupun begitu, langit tidak pernah mengeluh. Siapapun yang menemani dia, apapun bentuknya, dia tetaplah menjadi langit. Walaupun awan hitam membuatnya mendung, terik matahari membuatnya terang membiru, terbenam matahari membuatnya jingga, malam membuatnya hitam, dia ...