Postingan

Menampilkan postingan dengan label jalan macet

Menanti

Gambar
"Menanti" sangat melelahkan. Untuk dapat bergerak maju, apakah cukup hanya dengan menanti? Tidak. Menanti, lalu berusaha. Semua akan indah pada waktunya.

Drama, Lama

Tragedi pagi-pagi. Hal ini tetntu saja sangat dihindari. Biasanya, ya, kalau sudah maunya buru-buru itu ada aja yang tiba-tiba diluar kehendak. Contoh, misalnya pagi-pagi udah mau ngeprint, eh, tau-tau printernya ngadat. Hari ini ada lagi kehebohan lain, bukan yang standar seperti tadi.

Ada Aja

Jum'at, 16/04/10 Okay, the party is over. I lose, you win. Tak ada gunanya menghalang-halangi jalan. Tetap saja itu tidak akan mengubah "typical" orang Indonesia yang gemar melintasi trotoar. Yang ada ntar malah saya yang celaka.. Apalagi hari ini saya hanya sendiri. Kalau sendiri mah mana berani. Haha.. Lucunya, ketika saya tidak beraksi, tidak ada SATUPUN motor yang melintasi trotoar walaupun tadi macetnya tergolong cukup parah. Apakah saya sukses? Mungkin. Atau apakah mereka beraksi jika melihat saya doang? Itu mah berarti ngerjain saya.. Haha

Tak Seharusnya

Parah banget deh.. Ketika saya menunggu Trans Pakuan, jalanan lancar, seakan tidak akan terjadi kemacetan sama sekali. Namun, ketika Trans Pakuan datang, maka seketika jalan menjadi padat dan macet. Padahal, jika tahu akan seperti ini, maka saya akan berjalan layaknya hari-hari sebelumnya, dan akan memboikot pengendara motor yang tidak taat aturan. Namun, apa daya, partner sejati saya sudah terlebih dulu pergi dengan angkot. Kan kalau sendiri tidak 'klop'. Ok, ketika masih di perjalanan dengan TP, ada sebuah kejadian menarik yang sepertinya bisa membuat pemboikotan saya gagal total. Apakah gerangan? Itu adalah POLISI yang sedang mengendarai motor, dan dengan santainya mengendarai motornya melintasi trotoar. HAH?! Bisa-bisanya ya? Mentang-mentang polisi. Gimana yang lain akan menaati peraturan, orang polisinya aja masih melanggar. Walah..

Am I Right?

Rabu, 14/04/10 Aksi menghalang-halangi motor yang lewat trotoar yang kami lakukan akhir-akhir ini kami lakukan lagi, dan sepertinya akan terus berlanjut hingga Jalan Baru bebas macet. Mungkin saya kelas 3 SMA baru bener. Sigh~ By the way, aksi kami tadi sempat menimbulkan 'adu bacot'. Kejadiannya begini.. Ketika kami hendak melewati trotoar, sudah banyak motor yang mengantri untuk naik ke trotoar. Setelah cukup sepi, barulah kami berjalan. Namun, tetap masih ada yang naik. Nah, yang satu ini terlihat cukup kesal. Tersirat dari matanya, yang memperlihatkan sinar kebencian, namun ia tak berbicara apa-apa. Tak lama, lewatlah motor kedua. Pengemudinya terlihat agak menyebalkan, karena ia mengklakson, panjaaang, dan dengan nafsu ia berkata, "BUDEG YA LO?!" Tentu saya geram, karena memang ia yang salah. Sayapun membalas bacot, "TROTOAR BANG!!" Kalah saing, iapun marah, "GOBLOG SIA!!" Tak senang dibilang 'goblog', sayapun membalas, "ELU YANG ...

Betapa...

Selasa, 13/04/10 Inilah Kami... Seperti beberapa waktu yang lalu, sepulang sekolah biasanya saya berjalan kaki dari Bina Insani, hingga LIA Jl. Baru. Kali ini saya ditemani my classic partner, Dias, dan juga new comer, Ody. Biasanya Ody naik angkot yang arahnya berlawanan dari saya dan Dias. Namun, pada kesempatan ini, ia ingin membeli sepatu di Ekalokasari Plaza, sehingga arahnya menjadi sama dengan kami. Ok, ceritanya begini. Berhubung kami trio mungil (hanya saya yang lebih berat dari 60 Kg, sehingga diikut sertakan pada yang mungil-mungil, hahaha), kami berjalan satu banjar, pas satu trotoar. Nah, Jl. K.H. Sholeh Iskandar ini masih cukup padat dan menyebabkan kemacetan, sehingga banyak pengguna sepeda motor "nakal" melintasi trotoar sebagai jalur alternative untuk mempersingkat perjalanan. Tiba-tiba, dari belakang ada motor membunyikan klaksonnya. Kami masih memberi jalan untuk mereka. Namun, lama-lama kami menjadi terganggu dan mulai berpikir, "Trotoar kan untuk pej...

What Happened with Minesweeper?

Selasa, 30/03/2010 Berhubung jalan masih rusak, sayapun memutuskan untuk berjalan kaki dari BI hingga Toserba Yogya. Saya ditemani Dias, yang sama malas menunggu lama di jalan. Hasilnya memang kami lebih cepat dari teman kami yang kebetulan angkotnya berjalan bersamaan dengan kami. Di perjalanan, ngobrol-ngobrol cekikan, apalagi ketika melihat banyaknya cetakan roda motor yang melintasi jalan tersebut ketika tambalannya masih basah. Yang paling parah lucunya adalah ketika kami melihat bekas tapak kaki orang yang menyebrang ketika masih basah sehingga ada cetakan kaki di jalan. Jadi tak sempurna lagi deh.. Waduh Ok, pelajaran pertama komputer. Gurunya tidak masuk karena memang sebentar lagi Ujian Tengah Semester. Apa yang terjadi? Sepertinya dia kurang kerjaan sehingga menghack komputer teman saya. Memang, ia mempunyai kendali penuh atas komputernya karena dialah kepala lab. TI. Panik, teman saya langsung mematikan komputernya. Merasa gagal, guru saya tadi pindah hack-an. Kebetulan itu ...

A Brand New Day

Saya pikir dengan liburan seminggu kondisi jalan menuju/pulang sekolah saya akan menjadi tidak macet lagi. Ternyata perkiraan saya tadi salah. Namun, ada perubahan pada kondisi jalan tersebut. Supaya dapat memperbaiki jalan tanpa ada kendaraan yang lewat, maka jalan yang mengarah ke Toserba Yogya dialihkan ke jalan sebaliknya. Sampai di tempat tersebut, dialihkan lagi ke tempat semula. Begitupun yang dari arah sebaliknya dialihkan dari sekitar Hypermart hingga Yogya. Kabar baik mendengar ada perubahan demi kebaikan. Namun, segala yang diperbaiki tidak bisa sebaik yang awal. Memang mungkin bahan dasar jalannya sama, yaitu beton, lalu diaspal. Namun, mereka hanya menambah baru diatas jalan yang rusak sehingga permukaan jalan menjadi tinggi, dan saluran air yang lama tertutupi dengan permukaan jalan tadi. Efeknya mungkin belum terasa, tetapi jika saja turun hujan, air yang turun tidak akan terbuang dan akan mengambang di permukaan jalan. Jikalau meresap, akan melapukan batuan pembentuk ja...

Studi Wisata ke Sekolah Bina Insani

Problema tiap pagi sekaligus sarapan saya, "Jalan Macet". Sayang, macet yang tadinya hanya satu jalur merambat ke jalur yang satunya sehingga macetpun sangat parah. Bayangkan, dari Jembatan Jl. Baru, hingga Yogya. Baru lancar sebentar sudah macet lagi. Alhasil, banyak yang telat, tetapi saya tidak termasuk golongan tersebut. Mengapa...? Seperti biasa apabila ada tanda-tanda bagi saya akan terlambat, maka saya akan turun dan menyebrang. Namun, berhubung ketika itu sudah pukul 6.45, maka jika diteruskan akan menimbulkan ketelatan bagi kami. Oleh karena itu, Pak Sajar berhenti di warteg dekat situ dan kami (saya, Fei, dan Farrel) turun untuk menyebrang. Jarang-jarang kami turun bertiga karena biasanya hanya saya yang turun. Nah, ternyata, yang turun disana bukan hanya kami saja, melainkan salah satu jemputan Bina Insani. Berhubung rata-rata dari mereka kelas 1-4 SD, dan mereka turun dalam jumlah yang banyak sayapun menjadi geli dan tertawa melihatnya. Hahaha.. Seperti studi wisa...