Postingan

Menampilkan postingan dengan label pengalaman

Daftar Gambar Otomatis dengan Microsoft Word

Gambar
Gambar 1 Daftar gambar Q: "Udah sampai mana skripsi lu?" A: "Sampai bingung. Hahaha!" Begitulah jawaban yang selalu gue berikan ketika ada pertanyaan-pertanyaan yang senada dengan pertanyaan di atas. Sekarang, gue yang balik tanya, deh, "Sudah sampai mana skripsi lu?". Dimana pun posisi bab kalian, gue yakin pasti kalian sudah mulai harus memasukkan gambar pada tulisan kalian. Pada setiap gambar, kita perlu menuliskan caption (tulisan di bawah gambar) yang berisi nomor gambar beserta sedikit penjelasan mengenai gambar tersebut. Tentu menjadi hal yang sangat menyebalkan jika kita sudah menyisipkan banyak gambar dengan caption masing-masing, namun kemudian kita dengan sangat terpaksa  harus menambahkan sebuah gambar lain sehingga kita perlu untuk melakukan perubahan terhadap semua caption di bawah gambar baru tersebut. Kenapa kita harus dipusingkan dengan hal seperti itu ketika sebenarnya masih banyak target yang perlu kita kejar seperti peranca...

Daftar Isi Otomatis dari Microsoft Word

Gambar
Gambar 1. Membuat daftar isi otomatis Keseharian gue sekarang boleh dibilang tidak dapat terpisahkan dari salah satu calon karya ter-favorit gue: skripsi . Selain dari otomatisasi daftar pustaka  yang telah gue tulis di post yang lalu, gue juga melihat otomatisasi lain yang (semoga) dapat memudahkan kalian dalam membuat skripsi, laporan kerja praktek, karya ilmiah, ataupun membuat novel, yaitu otomatisasi daftar isi. Gue ingat pada zaman dahulu kala ketika (sepertinya) gue masih SMP (atau mungkin SD), gue baru bisa menuliskan daftar isi setelah gue selesai menuliskan makalah/artikel/laporan tugas sekolah. Hal tersebut dilakukan secara manual dengan melihat nomor halaman yang tertera pada Microsoft Word. Untungnya, waktu itu sebanyak-banyaknya laporan untuk tugas paling banyak kurang lebih 10 halaman. Tentunya bukanlah sebuah masalah besar untuk menuliskan daftar isinya satu per satu dengan melihat nomor halamannya. Namun, semakin tinggi tingkat pendidikan kita, tingkat kesu...

Daftar Pustaka Mudah dengan Mendeley

Gambar
Sebagai mahasiswa semester tua, sebut saja semester 8, keseharian gue tidak lepas dari kegiatan yang menjadi salah satu "kebahagiaan mahasiswa": skripsi . Terdiri dari banyak bab, skripsi sering kali menjadi kegalauan maksimal bagi para mahasiswa yang menjalaninya. Memilih judulnya saja sudah bingung, apalagi isinya, baik di bagian pendahuluan yang mencakup latar belakang, tujuan, dan batasan masalah, bagian isi yang mencakup tinjauan pustaka, data pengamatan, dan analisis, serta bagian penutup yang mencakup kesimpulan, saran, daftar pustaka, dan lampiran. Bagian-bagian tersebut belum menyinggung bagian "pra"-pendahuluan, ya, yang termasuk di dalamnya daftar isi, daftar gambar, ucapan terima kasih, abstrak, dan berbagai komponen lainnya yang menunjukkan betapa skripsi sangatlah menyenangkan *uhuk*. Terkadang, hal-hal detail dapat menjadi sesuatu yang menghambat pekerjaan, seperti misalnya penulisan daftar isi yang halamannya dapat berubah-ubah dan menjadi tida...

Prihatin Meludah

Gambar
Hati gue teriris ketika melihat seseorang meludah sembarangan. Kalau mungkin dia sakit, gue tidak tahu. Kalo mungkin dia kurang minum, gue juga tidak tahu. Hanya saja, gue merasa risih ketika orang tersebut meludah di jalan atau di tepinya. Jalanan merupakan fasilitas umum yang dipakai oleh warga sekitar. Gue sebagai salah satu warga merasa tidak terhibur dengan riak yang tergeletak. Siapa tahu riak menguap dan menjadi sumber penyakit. Siapa tahu riak terinjak dan menempel ke sepatu secara menjijikan. Siapa tahu riak yang diludahkan saat mengendarai motor pada kecepatan tinggi dapat mengenai pengendara motor lain di belakangnya. Adakah aturan di Indonesia yang melarangnya? Gue hanya tahu ada aturan ini di beberapa negara lain, seperti di Hongkong , Inggris , ataupun Singapura . Sayangnya, peraturan di Indonesia (seandainya ada) kurang terawasi dengan baik sehingga memunculkan pemikiran mental “taat kalau ada yang lihat”. Pada akhirnya, semua kembali kepada diri kita sendiri. K...

Skala Prioritas

Jadi, ceritanya gue masuk majalah SCIENTIA --majalah kreasi temen-temen fakultas gue tercinta, FMIPA UI. Wah! Perasaan luar biasa! Merasa terhormat bisa mengisi kolom opini dari majalah tersebut. Keinginan gue untuk beropini di koran  terealisasi. Semoga dapat menjadi lecutan semangat gue untuk terus menulis dan berkarya. Ayo, menulis!  P.S. Jangan lupa dibaca tulisan gue di majalah tersebut. Tidak akan menyesal pula untuk menghabiskan satu majalah keren ini dengan beragam topik yang menarik.

Kisah Klasik Bersepeda

Beberapa waktu yang lalu gue melihat ada tiga anak kecil sedang menaiki sebuah sepeda. Suatu saat mereka hampir terjatuh. Tentu saja penumpang yang belakang merasa kecewa  dan berkata "Ah, kamu!". Lalu pengendara sepeda tadi berkata, "Yang penting senang, kan?" Gue teringat pengalaman gue bersepeda dulu. Walaupun gue bukan orang yang sering bermain keluar bersama tetangga untuk main kejar-kejaran, ataupun ramai-ramai bermain bola plastik di gang, tetapi gue tetap merupakan salah satu anak yang sering bermain keluar untuk bersepeda. Kalau gue tidak salah ingat, mungkin hampir setiap akhir pekan gue selalu bersepeda. Walaupun hanya dalam berkeliling sekitar rumah dengan jarak yang relatif pendek (tidak sampai puluhan kilo), sudah cukup lah membuat gue berkeringat. Gue melewati sejarah panjang sampai gue benar-benar bisa naik sepeda roda dua dengan baik. Sepertinya cinta gue kepada sepeda diawali dari sepeda roda tiga yang pernah  gue miliki, yang gue rasa sang...

Semangat Belajar

Kalau dirasa-rasa, sebenarnya ada beberapa saat gue malas belajar. Sulit, pusing, stres, itu hanya beberapa dari segelintir keletihan dalam proses belajar. Tentu saja semakin lama gue belajar, semakin banyak yang gue ketahui, semakin dalam materi yang gue pelajari, semakin sulit pelajaran tersebut. Tapi gue berpikir kembali. Masih banyak orang yang tidak memiliki nasib seberuntung gue untuk duduk di bangku kuliah baik karena masalah keuangan, masalah keadaan, maupun faktor-faktor lainnya. Bahkan untuk makan pun sulit, yang terpikirkan hanyalah bagaimana cara untuk dapat bertahan hidup. Sedikit cerminan saja untuk membuat gue tetap semangat dalam belajar. Semangat, ya , Rick, belajar. Semakin banyak pengetahuan yang lu dapat, semakin besar kemungkinan lu untuk dapat mengubah dunia, minimal dari diri sendiri. Semua demi masa depan yang lebih baik :)

Deadliner

Beberapa kali gue menggunakan mindset " deadline " dalam melakukan suatu kegiatan. PR dipepet-pepet dekat hari pengumpulan, masuk kampus dipepet-pepet dengan jam masuk *kadang malah jadi kelewatan*, ataupun kerjaan ditunda-tunda karena lagi mager . Ketika sudah dekat-dekat waktunya, baru, deh , semua dikerjakan. Sejujurnya deadliner ini sangat melelahkan. Lu tidak punya waktu bersantai lagi karena batas pengumpulan akan segera tiba. Lu bahkan tidak mempunyai cukup waktu untuk dapat menganalisis permasalahannya dengan benar, dan hal tersebut dapat berimbas pada kualitas yang tidak cukup baik. Pola seperti ini harus segera dihilangkan. Walaupun lu bisa bersantai-santai di awal, derita yang dialami pada waktu deadline *bagi gue* tidak sesuai dengan banyak waktu santai tadi. Pusing, tertekan, stres, menyiksa diri sendiri hingga timbul pemikiran ya udah lah ya yang penting beres. Jelas ini sangat salah, karena sebaik-baiknya sesuatu adalah sesuatu yang dikerjakan dengan sebaik-...

Ikut Aturan

Gue bingung dengan orang-orang yang sulit menaati peraturan sederhana. Bukannya gue mendeklarasikan kalau gue selalu taat aturan, melainkan peraturan-peraturan seperti "membuang sampah pada tempatnya" ataupun "mengendarai motor sesuai dengan arah jalur yang benar" merupakan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan tanpa perlu disuruh.  Aturan dibuat bukan untuk dilanggar, loh, tetapi herannya masih ada saja yang begitu. Pemikirannya masih relatif pendek. "Buang sampah sembarangan, toh , nanti juga hilang terbawa hujan" jelas bukan pemikiran yang tepat karena sepanjangnya sungai akan berakhir di laut, dan lautan sampah bukan tidak mungkin akan membanjiri si pembuang sampah sembarangan itu. Begitupun dengan pemikiran " Biarin , ah , lawan arus, yang penting cepat sampai." Apa yang akan ada  di benak orangtua lu ketika misalnya *amit-amit* lu terpaksa menginap di rumah sakit akibat dari melanggar aturan? Padahal, kan, aturan dibuat bukan untuk dilangg...

Simpan File-mu

Menyebalkan rasanya ketika lu telah melakukan sebuah ketikan panjang di komputer, lalu tiba-tiba aplikasi yang lu jalankan tertutup secara paksa dengan kondisi pekerjaan lu tidak tersimpan. Masalah klasik, memang, tapi banyak orang yang sering melupakannya *termasuk gue, makanya gue tulis ini hahaha*. Walaupun terdengar sederhana, kelupaan untuk menyimpan file ketikan dapat menjadi permasalahan yang sangat krusial terutama ketika waktu lu sempit, atau ketika tulisan lu sudah cukup panjang sehingga ide yang dikembangkan sudah terlalu luas. Waktu yang digunakan untuk "mengetik ulang" itu akan menjadi sebuah waktu yang terbuang percuma, dan bisa jadi ide cemerlang lu pada awal penulisan tidak muncul lagi pada pengetikan lu yang kedua setelah kejadian. Memang beberapa aplikasi sudah menyiapkan fitur simpan otomatis, hanya saja frekuensinya bisa jadi tidak tepat terutama ketika lu melakukan pengetikan yang cepat. Selalu ingat untuk menyimpan file ketikan lu sebelum lu menyesal ke...

Dua Bahasa

Gambar
Gambar 1 Belajar Jerman Gue merasa belajar bahasa selain bahasa negara dan bahasa inggris menjadi sebuah hal yang perlu dilakukan. Oke, lah , bahasa negara ya harus tahu untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Begitupun bahasa inggris sebagai bahasa global. Walaupun begitu adanya "bahasa ketiga" menjadi sebuah poin lebih untuk dilakukan Fungsi bahasa ketiga dapat dilihat dari sisi akademis terutama bagi mereka yang ingin bersekolah di luar negeri. Tentu saja untuk dapat berkomunikasi dengan sekitarnya, perlu untuk mempelajari bahasa di daerah tersebut. Begitupun dalam melakukan kerja di luar negeri, atau sekadar ingin punya "bahasa rahasia" dengan si dia yang tidak semua orang tahu * ups , salah fokus*. Hanya saja terkadang kita tidak memiliki waktu dan materi yang cukup untuk mempelajarinya. Namun, dengan kemajuan teknologi, kita bahkan dapat melakukan belajar bahasa secara mobile  dengan menggunakan handphone , tab , ataupun laptop. Bagaimana? Jadi...

Speak Out!

" Kalo lu ga ngomong, gimana orang mau tau kemampuan lu? " Gue pernah mendengar kalimat itu, dan gue percaya bahwa itu benar. Diam bukanlah solusi untuk hal-hal yang menyangkut "pembuktian diri". Memang, semua harus diawali dengan usaha. Namun, ada satu titik dimana lu harus ngomong supaya orang lain tahu keberadaan lu. Bagaimana lu bisa meminta sesuatu tanpa harus berbicara? Apakah mau menunggu sampai dia sadar? Mau sampai kapan? Tak perlu malu berbicara, terutama ketika pembicaraan lu benar. Lu merasa sudah mengerjakan soal ujian dengan baik, tapi lu dapat nilai jelek? Speak out! Mungkin dosennya salah input nilai. Lu suka sama si dia? Speak out! Mungkin dia juga suka sama lu. Lu ingin jadi yang terbaik? Speak out! Dan biarkan dunia tahu siapa diri lu yang sebenarnya. Kalo lu merupakan orang yang pemalu *kayak gue*, pelan-pelan dobrak tembok itu, karena komunikasi menjadi sebuah hal utama bagi manusia sebagai makhluk sosial. Speak out and let the world hear ...

Kacamata

Gambar
Gambar 1 Gue dengan kacamata.  Sorry for doing selfie.  Ga maksud *haha* Jadi gue baru-baru ini harus menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan gue. Mungkin sudah sekitar 2 bulan, tapi itu termasuk "baru" jika dibandingkan dengan umur gue yang udah masuk kepala dua. Silinder kurang lebih 1/2, minus kurang lebih 1/4. Jujur saja, memakai kacamata itu menyebalkan. Kalau kotor, penglihatan jadi buram, harus buka kacamata untuk nge -lap. Kalau hujan, cipratan airnya akan menempel, harus buka kacamata untuk nge- lap. Kalo makan indomie, uap panasnya membuat kacamata berembun, harus buka kacamata untuk nge -lap. Amat mengganggu mobilisasi gue. Cuman, ya , kalau tidak pakai kacamata, buram sudah semua. Derita pakai kacamata -_-. Baik-baik, ya , rawat mata. Makan wortel, dan kurang-kurangi penggunaan gadget . Sebelum semua terlambat :) P.S. Bonus foto :p

Introspeksi

Sudah 1 bulan gue lewati di tahun 2015. Iseng aja melihat kembali target 2015 yang telah gue buat sebelumnya. Miris, karena banyak yang bolong. Lari mungkin hanya 6 kali, ibadah suka tertinggal, jurnal tidak dibaca, Halliday juga hanya bab 1, KRTI masih belum banyak ilmu, laporan keuangan berhenti, dan tidak selalu mandi dua kali sehari * ups *. Padahal baru 1 bulan, loh . Mungkin karena masih suasana liburan (:D) *alasan*, atau mungkin semua berasal hanya dari pribadi gue semata. Gue menyadari bahwa target gue cukup banyak, dan sulit untuk menjaga konsistensi seluruhnya dalam keseharian gue. Dari semua yang tidak terlaksana dengan baik, masih ada, kok , yang gue rutin jalankan, seperti menulis di blog ini :), langgeng sama doi ;), dan juga mencuri start les bahasa jerman dengan menggunakan aplikasi Duolingo  * cek tautannya, keren sekali*. Ada juga yang masih belum terlaksana, seperti beasiswa, riset, dan tentu saja nilai IP dan IPK *orang semester 6 aja belum masuk....

Sunset

Gambar
Gambar 1 Matahari terbenam Apa pemandangan yang paling lu suka? Kalo gue sunset a.k.a.  matahari terbenam. Secara spesifik, sunset yang gue maksud adalah yang terjadi di bibir laut atau pantai. Bukannya gue tidak suka dengan matahari yang seolah  terbenam di darat atau di balik gunung *karena sebenarnya juga tak kalah indah*, melainkan ada sensasi yang berbeda ketika terjadi di laut. Pastinya tidak ada halangan dalam memandanginya karena tidak ada gedung tinggi atau semacamnya. Paling yang bisa menghalangi hanya hujan dan mendung, which is menyebalkan. Gue asumsikan semua terang-terang saja, ya *haha*. Gue suka melihat bagaimana secara perlahan matahari turun, turun, terus hingga akhirnya hilang ditelan laut. Semilir angin laut serasa menyegarkan gue. Belum lagi ditambah perubahan warna yang terjadi diawali dari cerah sore, memudar, menjadi merah, lalu mulai gelap. Tenang sekali rasanya hati ini :)

Menulis Buku Harian

Apakah lu suka menulis buku harian? Mungkin kita lebih mengenalnya dengan kata diary . Biasanya, beberapa orang mengaitkan kata menulis diary  sebagai tulisan curahan hati pribadi yang bersifat rahasia dimana sang penulis dapat menuliskan segala perasaan yang dia alami tanpa perlu orang lain tahu. Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar. Kita dapat mengfungsikan diary sesuai dengan kemauan kita, bukan hanya sebagai tempat menyimpan rahasia. Gue pernah menulis buku harian *haha* dan sepertinya waktu itu bahasa-bahasa gue masih alay *mati*. Pernah suatu saat gue membacanya dan tertawa sendiri mengingat kejadian-kejadian di "waktu itu" yang gue tulis di buku tersebut. Begitupun ketika gue membaca posts  blog gue yang lama, yang masih bersifat semidiary  *atau mungkin memang sepenuhnya diary *. Lucu untuk mengetahui kenyataan bahwa gue "pernah" mengalami kejadian-kejadian unik di masa lalu, yang mungkin tidak terjadi dua kali. Coba saja cek beberapa random   posts...

Jangan Lelah, ya

Akan ada saat dimana lu lelah menghadapi semuanya. Lelah belajar, lelah bercakap dengan orang-orang, lelah bekerja, lelah berdiri, lelah menghadapi hidup. Itu hal biasa. Namun, akan menjadi luar biasa ketika kita berjuang melawan rasa lelah tersebut. Ibarat sebuah roda, ada saatnya kita di atas, dan ada saatnya kita di bawah. Kita hanya perlu untuk selalu menjaga ritme roda agar selalu berputar agar hidup terus berjalan. Fight~ P.S. Semangat, kawan!

Kehidupan Deadliner

Deadliner merupakan  sebuah istiiah untuk menunjukan orang yang kerjaannya ddiselesaikan berdekatan dengan batasa akhir pengerjaan tugas tersebut *Rick's abstract definition *. Kalau misalnya tugas diberi pada hari Senin dan dikumpulkan hari Minggu, maka para deadliner akan mengerjakannya mendekati hari Minggu (mungkin Jum'at atau bahkan Sabtu malam). Tentu saja keuntungannya adalah waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk mengerjakan tugas tersebut bisa digunakan untuk melakukan kegiatan lain. Lalu setelah hampir dekat dengan batas pengumpulan, baru semua perkejaan diselesaikan. Sayangnya tak jarang kompensasinya adalah hasil yang tidak memuaskan, tentu karena persiapan yang tidak matang. Sejujurnya  deadliner perlu memiliki mental yang kuat karena dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang relatif pendek. Lucunya, beberapa orang *dari pengalaman* malah senang dengan sifat ini. Alasannya beragam, seperti membuat lebih fokus, atau ...

Practice Makes Perfect

Jaman gue dulu SD, gue sering melihat beberapa kalimat motivasi di bawah buku tulis yang gue punya *mungkin sekarang juga masih ada*. Salah satu dari kalimat tersebut adalah practice makes perfect  (latihan membuat sempurna). Kalimat ini bagi gue sungguh menarik karena setelah melewati hampir 15 tahun (dengan asumsi gue SD kelas 1 pada umur 5 tahun*, gue benar-benar menyadari betapa berlatih dapat membuat kita "sempurna".Walaupun tidak ada yang sempurna, ada tingkatan tersendiri dimana gue merasa batas tersebut luar biasa, mendekati sempurna. Percaya atau tidak, berlatih memang membuat kita menjadi lebih baik. Sederhananya dapat gue contohkan dengan hitung-hitungan matematika. Tentu banyak orang yang bilang kalau matematika itu sulit *gue juga, kok*, apalagi untuk anak SD. Tapi tentu saja pada waktu itu kita tidak berdiam diri, bukan? Karena jika kita tidak belajar, maka kita tidak akan lulus ujian, dan tidak akan naik kelas *huhu*. Mau tidak mau dulu Ricky kecil *cuih* ...

Minat Baca

Gue perlu banyak membaca. Jujur aja gue akui gue bukan orang yang rajin membaca *soalnya rajinnya nulis haha*. Gue ingat dulu baca novel ataupun koran dan sebagainya karena tugas sekolah.  Paling top , ya, baca komik. Itupun gue merasa tidak sepenuhnya membaca karena lebih banyak gambarnya daripada tulisan. Padahal, kalau saja gue menyadari lebih dini bahwa kebiasaan membaca merupakan suatu hal yang sangat luar biasa, gue pasti akan rajin membaca sedari dulu. Memang, sih, bosan jika  membaca tulisan yang terlalu panjang. Lantas, gue merasa kebiasaan membaca diawali dari membaca tulisan dengan topik yang kita gemari terlebih dahulu. Gue yakin bakal "ga pengen berhenti" bacanya. Kebiasaan ini meningkat secara bertahap hingga sampai pada tahap dimana membaca merupakan bagian dari kehidupan. Waktu itu, gue pernah baa di suatu artikel *yang gue lupa darimana* kalau masyarakat Indonesia sekarang minat bacanya rendah. Pola membacanya pun tidak lagi membaca keseluruhan isi teks, t...